Banyak anak yang sudah lama belajar bahasa Inggris, namun masih malu untuk menggunakannya dalam percakapan sehari-hari di depan orang lain. Alasannya bukan karena anak tidak bisa. Ada banyak faktor yang seringnya membuat anak memilih diam daripada mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris yang sudah dipelajarinya.
Salah satu contohnya, pernah terjadi pada anak yang sudah cukup fasih berbahasa Inggris. Saat bermain dengan teman sebayanya yang belum lancar, ia sesekali menyelipkan kata atau kalimat bahasa Inggris dalam percakapan. Bukannya mendapat respon positif, orangtua temannya yang mendengar justru menegurnya dan menganggapnya “keminggris” – sok Inggris, hanya karena berbicara dalam bahasa yang sudah ia kuasai kepada teman-temannya sendiri.
Kejadian sederhana seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi, dan dampaknya tidak kecil. Adanya stigma “keminggris” yang sering muncul di lingkungan sekitar inilah yang kadang membuat anak khawatir dianggap sombong atau ingin terlihat lebih pintar daripada teman-temannya. Apalagi jika kesalahan pengucapan atau tata bahasa yang mereka gunakan justru direspon dengan tawaan, bukan koreksi yang suportif.
Alasan lain yang sering membuat anak malu bicara bahasa Inggris di depan orang lain, salah satunya rasa tidak percaya diri dengan pelafalan (pronunciation). Anak yang terbiasa belajar bahasa Inggris lewat buku atau soal tertulis, tapi jarang mendengar dan mengucapkan nya secara langsung, cenderung ragu saat berbicara, karena takut logatnya terdengar aneh atau salah ucap.
Faktor lainnya, bisa juga datang dari lingkungan rumah dan sekolah yang minim ruang untuk berlatih. Bahasa Inggris hanya digunakan saat pelajaran atau ujian, bukan bahasa yang bisa digunakan untuk ngobrol santai. Akibatnya, saat diminta bicara secara spontan, anak jadi kikuk karena tidak terbiasa.
Namun, rasa malu ini bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Dengan pendekatan yang tepat, orangtua bisa membantu anak menemukan kepercayaan dirinya. Berikut beberapa cara meningkatkan percaya diri anak agar berani berbicara bahasa Inggris di depan orang lain.
- Ubah Cara Pandang tentang “Keminggris”
Jelaskan kepada anak bahwa berbicara bahasa Inggris bukan tanda tidak cinta Tanah Air, melainkan keterampilan yang berguna di dunia global. Tekankan bahwa mencintai Indonesia dan menguasai bahasa asing bukan dua hal yang saling bertentangan.
- Ciptakan Lingkungan Rumah yang Aman Untuk Mencoba
Buat waktu khusus, misalnya “English Time” 15-20 menit sehari, dimana anak bebas berbicara bahasa Inggris sesuai kemampuannya. Berikan koreksi dengan cara yang suportif tanpa membuat anak merasa dipermalukan.
- Mulai dari Percakapan Sederhana dan Santai
Ajak anak mengobrol atau diskusi dalam bahasa Inggris. Mulai dari hal sehari-hari, seperti bertanya kabar, atau bercerita tentang aktifitas favorit mereka. Semakin sering anak terpapar percakapan ringan, semakin membantunya terbiasa untuk berbicara bahasa Inggris.
- Berikan Banyak Kesempatan untuk Praktik Langsung
Kemampuan berbicara tidak akan berkembang hanya dari teori. Ajak anak ke tempat-tempat yang memungkinkan mereka mempraktikkan bahasa Inggris, seperti bertemu turis asing (dengan pengawasan), mengikuti komunitas bahasa, atau bisa juga memanfaatkan aplikasi bahasa untuk simulasi percakapan interaktif
- Latih Kepercayaan Diri Secara Umum, Tidak Hanya Soal Bahasa
Anak yang percaya diri secara umum, baik dalam berpendapat, tampil di depan kelas, atau mencoba hal baru, biasanya lebih berani menggunakan bahasa Inggris juga. Dukung anak untuk aktif di kegiatan yang memungkinkan ia tampil di depan orang lain, seperti drama, pidato atau presentasi.
- Cari Komunitas atau Teman Sebaya yang Suportif
Bergabung dengan kelompok belajar atau komunitas anak-anak yang juga belajar bahasa Inggris bisa mengurangi rasa “sendirian” dan menciptakan rasa saling mendukung.
- Apresiasi Usaha, Bukan Hanya Hasil
Berikan pujian saat anak berani mencoba berbicara bahasa Inggris, meskipun hasilnya belum sempurna. Fokus pada keberanian mereka, bukan pada kesalahan tata bahasa. Semakin anak paham bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar, bukan sesuatu yang perlu ditakuti, semakin besar pula keberaniannya untuk terus berbicara tanpa rasa malu.
Pada akhirnya, rasa malu bicara bahasa Inggris pada anak bukan hal yang harus dihilangkan, melainkan sesuatu yang perlu dilalui bersama, dengan dukungan yang tepat dari orang-orang di sekitarnya. Anak tidak butuh dipaksa untuk langsung lancar, mereka hanya butuh ruang aman untuk mencoba tanpa takut dihakimi.
Dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, orangtua bisa membantu anak melihat bahasa Inggris sebagai jembatan untuk peluang yang lebih luas, bukan sesuatu yang harus disembunyikan karena takut dinilai negatif oleh orang lain. Pendekatan semacam ini sejalan dengan metode project based learning yang diterapkan di Living English, dimana anak diajak membangun kepercayaan diri berkomunikasi lebih dulu, baru kemudian membenahi detail tata bahasanya melalui kegiatan-kegiatan interaktif, bukan sekadar hafalan.
Jika orangtua ingin mendampingi anak menemukan keberaniannya secara langsung, tes diagnostik dan kelas percobaan di Living English bisa menjadi titik awal yang tepat untuk memulainya.
Penulis: Desti Maulida